Mari Mendengar

Kata-kata penuh makna

Sudah seharusnya kita semua tersenyum. kalo belum bisa tersenyum, tolong,
coba tanyakan, seberat apa bebannya

Kecenderungan kebanyakan orang lebih mudah melihat setitik tinta Warna Hitam di Kertas Gambar A3 dibandingkan melihat Warna Putih yang cukup Luas

Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang baik.
Sehingga ketika mereka melihat kebaikan, mereka cenderung “ah biasa aja”. Sedangkan ketika mereka melihat keburukan, mereka cenderung “Wow…!”

Inilah pentingnya empati.
Dengan memahami bahwa setiap manusia itu berbeda-beda, maka alangkah baiknya sebelum kita melancarkan suatu kritik, coba dipahami dulu bagaimana kondisi psikologis seseorang yang akan kita kritik. Atau setidaknya, bayangkan dulu bagaimana seandainya bila kita berada dalam posisi orang yang akan kita kritik.

Tidak mudah jaman sekarang menemukan orang yang berbesar hati menerima kritikan dari orang lain

Tidak mudah jaman sekarang menemukan orang yang bijak dalam mengkritik orang

Kita tak akan mampu menyenangkan semua orang
makanya apapun yang kita lakukan jangan pernah berpikiran dan bertujuan untuk menyenangkan dan mencari ridho manusia, cukup senangkan diri dan Allah ridho akan hal itu

Kita tidak mampu menyenangkan semua orang, tapi yang paling susah untuk disenangkan itu biasanya diri sendiri.

“Semua Yang Diungkapkan Harus Kebaikan, Namun tidak Semua Kebaikan Harus Diungkapkan” Mosquito

Ketika Kita Ingin Didengarkan Orang Lain, Maka Kita Haruslah Mau Mendengarkan Orang Lain.

Mari Bekerja

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tugu Mas Kotabumi

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berbagi Ceria Berbagi Gembira

Mohon sedikit bersabar apabila Loading flash agak lama..

Antara Cinta Ibu dan Kekasih

Ibumu akan mencintaimu dan membiarkanmu melakukan apa yang terbaik untukmu, menurutmu, memberi masukan dan semangat serta berusaha membimbingmu menjadi anak baik.
Kekasihmu akan mencintaimu, tapi takkan membiarkanmu untuk melakukan apa yang terbaik untukmu, menurutmu, cenderung akan mengatur hidupmu, dan bila kau berusaha menolak, dia akan marah.

Ibumu akan terus mencintaimu walau kau jauh darinya, bahkan ketika kau telah tiada.
Kekasihmu akan berkurang cintanya, bahkan habis ketika kau jauh, apalagi ketika kau telah tiada.

Ibumu akan menerimamu dengan tangan terbuka walau kau telah menyakiti hatinya yang terdalam.
Kekasihmu juga akan menerimamu, tapi sebelum itu, kau harus berlaku manis.

Ibumu takkan pernah menuntut apapun darimu walau ia telah mencintaimu sejak kau dilahirkan.
Kekasihmu yang baru saja mencintaimu akan menuntut balasan dari rasa cintanya.

Ibumu akan meberimu ruang sebesar mungkin untuk berbagi cinta kepada temanmu, orang di sekitarmu, bahkan kekasihmu.
Kekasihmu cenderung tak memberimu kesempatan untuk membagi cinta walaupun kau tak bermaksud selingkuh, karena ia akan selalu menganggapmu selingkuh.

Ibumu akan benar-benar memberimu cinta yang paling tulus dan ikhlas di muka bumi ini.
Kekasihmu? Tidak!!

“Never trust woman except she’s your family”…terdengar pahit, tapi itulah kenyataannya…
pada saatnya nanti kita semua membutuhkan kedua cinta tersebut dalam takaran cinta masing-masing, karena tanpa kedua cinta tersebut, hidup akan terasa hampa…

diambil dari sini

Komentar saya..

“Jika semua dijalani sesuai takarannya, dilakukan bersamaan tanpa ada yang tersisihkan. maka harmonislah yang akan dirasakan. Namun yang utama janganlah cinta pada duniamu, membuatmu lupa akan cinta pada Penciptamu, karena dialah cinta yang hakiki..”

Sekantung Garam dalam Kehidupan

Alkisah di suatu tempat terdapatlah seorang yang dikenal karena kebijaksanaannya dalam menyelesaikan suatu persoalan, banyak orang-orang dating kepada beliau untuk meminta nasehat dan mendengarkan petuah-petuah bijak darinya. Suatu ketika datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung suatu masalah dan dating kepada orang bijak tersebut, dia mengungkapkan semua rasa gundah gulananya dalam menghadapi kehidupan ini. Setelah mendengar semua permasalahan yang sedang dihadapi pemuda tersebut orang bijak tersebut mengangguk-angguk dan tanpa berkata apa-apa dia mengambil sekantung garam dari dalam sakunya. Dia taburkan garam tersebut ke sebuah gelas yang berisi air tawar setelah itu diadukknya air tersebut sehingga tercampurlah kedua zat tersebut.

Begitu selesai dicampur diberikannya air garam tersebut ke pemuda itu,
“Anakku, minumlah air ini.” Perintah si orang bijak.
Dengan patuh si pemuda tersebut meminumnya
“Bagaimana rasanya anakku?” Tanya si orang bijak.
“rasanya pahit sekali wahai orang bijak”. Jawab si pemuda

Lalu si orang bijak tersebut mengambil gelas yang dibawa si pemuda dan mengajak si pemuda untuk beranjak dari tempat mereka semula, mereka berjalan menuju sebuah telaga yang berair sangat jernih. Si orang bijak lalu menaburkan sekantung garam lagi ke telaga tersebut, mengambil sebuah kayu dan mengaduk tempat dia menaburkan sekantung garam itu. Lalu dia mengambil gelas yang dibawanya mengisinya dengan air telaga itu dan memberikannya lepada pemuda itu untuk diminumnya. Setelah itu bertanyalah si orang bijak
“Bagaimana rasanya anakku?”
“Segar wahai orang bijak”. Jawab si pemuda.
“Anakku, pahitnya kehidupan adalah seperti pahitnya sekantung garam, tidak kurang dan tidak lebih. Yang menyebabkan rasa pahitnya berbeda adalah tergantung dari dimana tempat kita meletakkannya, bila kita letakkan di hati yang sesempit gelas maka rasanya akan pahit sekali tetapi bila kita letakkan di hati yang seluas telaga ini maka rasanya akan tetap segar.”

Si Pemuda mendengar dengan penuh hikmat, lalu si orang bijak itu melanjutkan.
“Jadi, bila kau merasakan pahitnya kehidupan dan kegagalan dalam hidupmu, hanya satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu untuk menerimanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan. Perasaanmu laksana wadah, kalbumu adalah tempat menampung segalanya, jadi jangan buat hatimu laksana gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran serta kebahagiaan.”
Terbukalah pemikiran si pemuda tersebut dan mereka pun beranjak dari telaga tersebut, sekantung garam tetap berada di saku si orang bijak untuk meredakan keresahan jiwa orang-orang lain yang datang kepadanya. Alhamdulillah

Kesimpulan:
Semua kembali kepada pribadi masing-masing dalam menganggap sebuah permasalahan, apakah mau menikmati pahitnya permasalahan itu saja atau malah menjadikan masalah itu menjadi lebih “segar”

sumber